Selasa, 20 Oktober 2015

UJIAN NASIONAL KEJAR PAKET B TAHUN 2015

Usia 62 Tetap Semangat Ikuti UNPK



Pengawas UNPK B dari PKBM Setyo Education



      Sebanyak 948 peserta mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket B atau setara dengan SMP di lima lokasi. Antara lain di SDN Simomulyo I, SDN Karah I, SDN Sukomanunggal III, SDN Sidotopo 8 dan SDN Semolowaru II. Mereka berasal dari 63 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Surabaya.
 
     
Koordinator pelaksaan UNPK di SDN Karah I, Imam Rochani menjelaskan proses pelaksanaan UNPK ini sama dengan UN di SMP. Dimana, ada dua jumlah pengawas dan 20 peserta dalam satu ruangan. “Ada dua ruangan yang pesertanya tidak sampai 20 orang cuma 16 orang karena memang jumlahnya (peserta,red) tidak genap,” kata Imam disela-sela pelaksanaan UNPK, kemarin. Berbeda dengan UN SMP yang mengerjakan 4 mata pelajaran selama empat hari, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA. Peserta UNPK mengerjakan matpel dengan jumlah lebih banyak yakni enam matpel selama tiga hari. Artinya dalam dua matpel dalam satu hari. Enam matpel itu adalah Bahasa Indonesia, PKN, Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS. Dimana, untuk matpel jam pertama UNPK dimulai pukul 13.30 hingga 15.30. Dilanjutkan dengan matpel kedua pukul 16.00 hingga 18.00.

     
Di SDN Karah I sendiri ada 111 peserta UNPK dari 6 PKBM. Mayoritas peserta yang ikut dkejar paket tersebut lantaran putus sekolah. Sehingga, acuan kelulusan UNPK ini pun dilihat dari proses pembelajaran peserta. “Bila di DO saat kelas II, hanya ikut proses belajar satu tahun di PKBM. Jika tidak pernah sekolah SMP sama sekali, maka harus ikut PKBM selama 3 tahun,” jelas pria yang juga kepala PKBM Budi Utama tersebut.

     
Hampir sebagian peserta UNPK C ini masih muda dan masih berumur di bawah 20 tahun. Ada beberapa yang diatas 20 bahkan 60 tahun yang ikut UNPK dengan jumlah yang tidak banyak. Sehingga, tidak sulit untuk mengerjakan naskah UNPK. Menurut Imam, beberapa alasan peserta ikut UNPK yakni karena putus SMP dengan alasan dari mulai dikeluarkan sekolah, sakit dan tidak mampu melanjutkan pendidikan. Salah satunya yakni seperti Ahmad Muzaki, 34 yang waktu itu putus sekolah lantaran ayahnya meninggal. Sehingga, dia harus bekerja sejak usia muda. Karena ketelatenannya dalam pekerjaannya, dia berhasil menjadi karyawan terbaik di Bali meski tidak meiliki ijazah. “Sekarang dia kerja di Bali. Ini dia ijin kerja untuk ikut UNPK,” jelasnya.

     
Semangat untuk mengikut UNPK juga terlihat dari guru PAUD di kawasan kedung Cowek, Musyarofah, 62. Musyarafah mengaku mengikuti UNPK karena peraturan pemerintah yang mengharuskan guru PAUD manimal mendapat pendidikan SMA. “Setelah lulus Paket B, saya mau melanjutkan Paket C,” pungkasnya. (Humas Dispendik Surabaya dari sumber aslinya)


1 komentar:

Kdaur Ulang mengatakan...

Sy ingin memdaftar kejar paket c d m. Dan berapa biayanya