Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN NON FORMAL

General Info :

Secara umum telah dikenal tiga jenis/model pendidikan yang ada. Ketiga jenis pendidikan itu memiliki masing-masing fungsi, tetapi fungsi yang berbeda tersebut saling melengkapi, sebab pendidikan pada hakikatnya adalah pembetukan karakter dari individu-individu yang mengalami pendidikan. Karakter yang dibentuk melalui pendidikan itu meliputi tiga macam hal yaitu intelektual, emosional dan spiritualnya.

Pembentukan karakter ini dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan yang kita ketahui kebanyakan hanya pendidikan formal yakni di sekolah, tetapi selain pendidikan formal disekolah, karakter individu yang mengalami pendidikan juga terbentuk di dua jenis/model pendidikan lainnya yakni pendidikan informal dan pendidikan nonnformal.

Jenjang Pendidikan Formal

Apa yang dimaksud pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal tersebut ? berikut  penulis jabarkan secara singkat :

Pendidikan Formal : Merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Termasuk juga ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus.

Pendidikan Nonformal : Taman Pendidikan Al Quran, Sekolah Minggu, berbagai kursus, bimbingan belajar dan sebagainya. Program-program pemberantasan buta aksara, Pendidikan Kesetaraan  Paket A, B, dan C, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),  dan sebagainya. 

Pendidikan Informal : Adalah jalur pendidikan di lingkungan keluarga yang berupa ajaran tata-krama, sikap dan tingkah laku yang diajarkan pada keluarga semenjak peserta didik lahir. Pendidikan informal dapat juga disebut pendidikan yang ada di masyarakat, atau pendidikan yang dialami oleh seseorang oleh lingkungannya.

 (by Wiro Sableng)

HUBUNGAN TELEVISI DAN PENDIDIKAN

PERLU DIPERHATIKAN ....

DAMPAK TAYANGAN TELEVISI TERHADAP TINGKAH LAKU MASYARAKAT 

Berawal dari keprihatinan saya terhadap dampak tayangan televisi terhadap tingkah laku khalayak umum (terutama anak-anak), saya menulis artikel ini. Tujuannya untuk membangkitkan kembali kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya kualitas program televisi yang ditayangkan. Karena banyak dari kita tidak menyadari akan pentingnya fungsi tayangan televisi terhadap perilaku kita di kehidupan sehari-hari. Seharusnya, televisi bisa menjadi sarana belajar bagi khalayak, namun yang terjadi malah sebaliknya. Tayangan televisi justru memiliki dampak yang buruk terhadap perilaku masyarakat. Banyak tingkah laku dalam program televisi yang sangat tidak layak untuk ditirukan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang kita ketahui, televisi adalah sebuah media yang tergolong paling unik dalam sejarah penemuan media saat ini. Jalur komunikasi yang memadukan dua unsur yaitu audio dan visual membuat media ini lebih mudah untuk dinikmati dibandingkan dengan media yang lain yang hanya memadukan satu jalur komunikasi saja. Masyarakat lebih tertarik menonton televisi ketimbang membaca koran yang hanya bisa dinikmati visualnya dengan cara membaca, atau radio yang hanya bisa dinikmati audionya saja. Jika kita tinjau kembali, stasiun televisi memang mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Masyarakat semakin menunjukkan respon yang positif pada tayangan-tayangan yang ada di televisi. Pengaruh televisi terhadap perkembangan zaman sudah sangat besar. Namun dari sinilah keprihatinan kita bermula.

Pada era globalisasi ini, begitu banyak tayangan televisi dengan fungsi menghibur. Menghibur disini bisa dijabarkan sebagai penghilang stres, pengundang tawa, pengisi waktu ketika santai, dan lain sebagainya. Namun fungsi ini hanya berhenti pada titik “menghibur” saja, tidak sampai fungsi mendidik. Maka akibatnya, banyak tayangan menghibur yang justru menjauhi nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Tayangan televisi yang ada jutru dianggap tidak rasional, karena tidak sesuai dengan kehidupan nyata. Bagi anak-anak dibawah umur dan remaja, tayangan ini bisa menjadi contoh dan teladan (yang buruk). Karena anak-anak yang masih pada masa pertumbuhan akan cenderung melakukan hal-hal yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari (dalam hal ini adalah tayangan televisi). Anak-anak dan remaja akan cenderung menirukan apa yang mereka saksikan di televisi.

Misalnya, tayangan sinetron anak SMA. Perilaku anak SMA yang ada dalam sinetron sangat tidak mencerminkan anak SMA yang seharusnya. Kita bisa melihat langsung bagaimana penampilan anak SMA di dalam sinetron (seragam tidak rapi, baju dikeluarkan, rok yang sangat pendek, sepatu yang tidak hitam polos, kaos kaki warna-warni, memakai aksesoris yang berlebihan, perilaku murid yang tidak sopan kepada guru, guru yang suka berteriak-teriak, konflik yang ada juga terlalu berlebihan dan tidak rasional), tentu saja hal ini sangat jauh dari perilaku anak SMA yang seharusnya. Cepat atau lambat, anak-anak dan remaja akan menirukan gaya ini. Kita bisa melihat secara langsung dampaknya pada murid-murid di sekolah-sekolah. Bisa kita simpulkan, bahwa tayangan televisi yang seperti ini akan merusak moral generasi muda.

Kita bisa juga mengambil contoh dari acara gosip atau infotaiment. Sang pembawa acara akan berbicara dengan berlebihan seputar berita yang akan ditayangkan. Berita-berita ini juga sangat tidak layak untuk ditayangkan, karena dengan sengaja mengumbar kehidupan pribadi para selebriti. Padahal kehidupan pribadi ini adalah aib yang harus ditutupi oleh keluarga si selebriti itu sendiri. Pada zaman sekarang, publikasi permasalahan pribadi kalangan artis sudah menjadi tontonan yang biasa. Entah apa yang membuat para wartawan begitu bersemangat mencari berita seperti ini. Tapi kita tidak bisa hanya menyalahkan wartawan, kadang justru sang selebriti yang dengan senang hati mempublikasikan permasalahan pribadinya kepada pers. Sayangnya khalayak juga menunjukan respon yang besar terhadap tayangan ini, padahal tayangan ini tidak ada manfaatnya untuk kehidupan pribadi sang penonton. Kita hanya diajarkan untuk menyaksikan aib orang lain dan kemudian membicarakannya kepada orang lain. Biasanya seseorang yang menonton tayangan infotaiment, setelah ia mengetahui satu berita, ia akan menyebarkan berita itu kepada orang lain. Ujung-ujungnya bergosip. Biar update, katanya. Hal ini sangat tidak pantas untuk dilakukan karena tidak memiliki dampak yang positif sama sekali bagi orang tersebut.

Contoh lain adalah acara musik. Di dalam tayangan ini, musik-musik yang ditunjukkan malah musik-musik bertema galau, alay, jatuh cinta, dan lain sebagainya. Yang apabila para anak muda mendengarkannya, akan menimbulkan perasaan yang berlebihan. Mereka yang mendengarkan musik galau akan semakin galau. Mereka yang mendengarkan musik jatuh cinta akan semakin mencinta sampai akhirnya menganggap cinta sebagai hal yang berlebihan. Para penonton acara ini juga menunjukkan perilaku ke-alay-an, yang menurut penilaian saya “nggak banget deh.”

Dari ketiga contoh fenomena tersebut, kita sudah dapat melihat dampaknya secara nyata. Bagaimana anak SMA zaman sekarang dalam berperilaku, bagaimana obrolan ibu-ibu dalam perkumpulan, bagaimana tingkah anak muda dalam pergaulan, semua itu akan merusak moral masyarakat.

Memang tidak semua acara televisi memiliki dampak yang negatif bagi khalayak umum, namun sebagian besar tayangan tersebut sudah cukup menjadi mimpi buruk bagi kelangsungan hidup masyarakat. Hanya sedikit masyarakat yang menunjukkan respon terhadap acara-acara yang lebih bermanfaat. Kebanyakan dari mereka terlalu terhipnotis terhadap hiburan-hiburan mengundang tawa yang justru tidak bermanfaat bagi mereka.

Seandainya saja, stasiun televisi bisa memberikan kesempatan untuk menayangkan acara televisi yang bermanfaat dan mendidik, mungkin dampak buruk televisi tidak akan separah ini. Masih banyak tayangan-tayangan bermanfaat yang bisa kita pertimbangkan. Misalnya, acara yang mengupas tuntas budaya dan keindahan Indonesia, acara edukasi baik untuk pelajar maupun masyarakat umum, acara kesehatan, acara keluarga, tayangan inspiratif, tayangan tentang perkembangan dunia, dan lain sebagainya. Kita bisa saja menayangkan acara ini dengan bungkus yang menarik, tentu saja dengan tim kreatif yang memiliki niat yang besar untuk memperbaiki moral para masyarakat.

Coba bayangkan, seandainya tayangan televisi yang saya sebut diatas bisa benar-benar ditayangkan, tentu saja anak-anak, remaja, dan masyarakat umum akan belajar dari sana. Televisi bisa menjadi sarana bagi orang tua untuk mendidik anaknya. Televisi bisa menjadi tayangan yang menghibur sekaligus mendidik dan menambah pengetahuan. Dengan begitu, moral dan ilmu para khalayak akan meningkat.

Sudah saatnya kita memberikan respon yang positif terhadap acara televisi yang bermanfaat dan mendidik. Semakin banyak respon terhadap tayangan itu, semakin berkembang pula tayangan itu. Dengan demikian, televisi akan memperbanyak tayangan yang lebih bermanfaat bagi penontonnya.

Ayo sebarkan inspirasi, sadarkan masyarakat akan pentingnya fungsi tayangan televisi bagi mereka! Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Untuk generasi yang lebih baik. (red)

HUBUNGAN TELEVISI DAN PENDIDIKAN

LITERATUR tentang fungsi media senantiasa mengetengahkan bahwa fungsi media ialah informasi, hiburan, dan pendidikan. Media cetak pada umumnya lebih memberikan penekanan pada fungsi informasi dan hiburan, sedangkan televisi (TV) lebih cenderung mengedepankan fungsi hiburan dan informasi, sementara itu, fungsi pendidikan bagi TV cenderung diposisikan sebagai unsur pelengkap. Mengapa demikian?

Apakah karena pengelola stasiun TV tidak menyadari tanggung jawab sosial mereka kepada pemirsa? Ataukah karena fungsi pendidikan dianggap merupakan tanggung jawab utama keluarga dan sekolah? Padahal, kita tahu bahwa apa pun yang disiarkan TV, sadar atau tidak, dimaksudkan atau tidak, akan senantiasa menyosialisasikan nilai-nilai sosial-budaya tertentu dan berdampak pada pemirsa.

Tidak jarang orang menuduh siaran TV menjadi biang keladi perilaku sosial menyimpang yang terjadi di masyarakat. Padahal, mungkin saja terjadi saat dilakukan survei menyangkut pengaruh siaran TV pada pemirsa, ternyata tindakan yang dilakukan responden, independen dari siaran TV. Artinya, responden tidak menyaksikan siaran TV dan tindakannya dijalankan secara spontan tanpa ada kaitannya dengan siaran TV.

Belum lagi kalau kita menelaah lebih jauh penelitian tentang hubungan antara tayangan kekerasan di TV (TV violence) dan perilaku kekerasan aktual di masyarakat, ternyata hasilnya menunjukkan penyebab kekerasan di masyarakat ialah faktor struktural (kesenjangan sosial-ekonomis, lingkungan, dan sebagainya). Tayangan kekerasan di TV bukan sebagai penyebab terjadinya kekerasan di masyarakat, melainkan sebagai faktor yang memperkuat atau mengukuhkan nilai kekerasan yang sudah ada (Joseph Klapper, 1967). Di satu sisi, saat TV menayangkan peristiwa kekerasan di masyarakat, niatnya membuat masyarakat waspada terhadap kemungkinan tindakan kekerasan yang ada di lingkungan sosial. Namun saat frekuensi penayangan tindakan kekerasan menjadi berlebihan, niat mendidik masyarakat malah berbalik membuat masyarakat menjadi takut dan waswas. Di lain pihak, penayangan tindak kekerasan yang berlebihan akan menimbulkan pula dampak psikologis dalam bentuk desensitizing process (proses kehilangan kepekaan akibat tindakan yang sebenarnya luar biasa, malah dianggap normal karena terlalu sering disaksikan).

Dalam kondisi di saat TV dihadapkan pada dikotomi antara tayangan mendidik dan tidak mendidik, stasiun TV akan cenderung berdalih dengan mengatakan apa pun program yang ditayangkan senantiasa memiliki dampak yang diniatkan (intended consequences) dan dampak yang tidak direncanakan (unintended consequences).

Niat program TV senantiasa baik, tetapi pemirsa akan menilai kualitas sebuah tayangan sesuai dengan persepsi masingmasing yang memang pada dasarnya sudah berbeda. Sebagai ilustrasi, saat stasiun TV mengampanyekan pemberantasan HIV/ AIDS dengan sosialisasi penggunaan kondom (niat baik), pesan TV malah dituduh mendorong praktik seks bebas melalui pemanfaatan kondom (dampak buruk).
Sikap proaktif

Dalam dilema semacam ini, tidak banyak pihak yang dapat melihat secara propor sional sejauh mana sebenarnya TV dapat berperan dalam proses pendidikan. Fungsi pendidikan dilekatkan pada mass media (termasuk TV) karena posisi media sebagai lembaga pendidikan informal. Dalam pendidikan formal, di rumah dan sekolah, nilai-nilai pendidikan disampaikan melalui proses yang interaktif dan dialogis.

Melalui lembaga pendidikan informal yang dijalankan mass media, nilai-nilai pendidikan disisipkan melalui tayangan yang disajikan dalam proses yang monologis. Masalah apakah pemirsa mengerti pesanpesan pendidikan yang diselipkan melalui tayangan TV ataupun apakah mereka memperoleh manfaat pembelajaran, akan bergantung pada persepsi setiap pemirsa.

Setiap pembahasan mengenai mendidik tidaknya tayangan TV pada pemirsa akan sangat bergantung pada sikap proaktif pemirsa untuk memilih dan memilah, antara nilai positif mana yang perlu diinternalisasi untuk kemudian diadopsi dan nilai negatif mana yang perlu diabaikan.

Cara TV menjalankan fungsi pendidikan tidak mungkin dilakukan dengan cara yang linear. Jika hal tersebut dijalankan, mungkin akan membosankan. Nilai pendidikan disampaikan melalui penampilan pesanpesan yang kontras bahkan kontroversial.Kebaikan dikontraskan dengan kejahatan, kecerdasan akan dipertentangkan dengan kebodohan, kepolosan dengan keculasan, bahkan kekerasan dengan kasih. Masalah etika akan timbul, dan dengan sendirinya peran pendidikan akan dipermasalahkan manakala penyampaian pesan dilakukan dengan cara yang tidak proporsional. Atau manakala, nilai-nilai (values) yang negatif memperoleh legitimasi dalam bentuk pembenaran. Tema bahwa kebaikan mengalahkan kebatilan, kejujuran menundukkan kecurangan dan seterusnya, tetap harus dipertahankan dan dijaga sebagai pesan moral.

Panggilan medium TV memang untuk menghibur pemirsa karena jika tayangan tidak menghibur, tentu akan kehilangan pemirsa. Jumlah pemirsa yang tecermin pada rating itulah yang dijual pada agensi untuk menghadirkan iklan, yang pada gilirannya akan memberikan keuntungan ekonomis agar stasiun TV tetap eksis. Logika instrumental bisnis TV memang mencari untung, tetapi logika ideal operasional TV ialah melayani pemirsa dengan tayangan yang menghibur dan sejauh mungkin mendidik.

Jika di sana-sini masih terjadi benturan antara fungsi hiburan dan pendidikan, patut dipahami bahwa pengelola stasiun TV masih berusaha mencari `format yang pas’. Dalam situasi ini, pemirsa juga diminta menyadari bahwa dalam menjalankan fungsi pendidikan, mass media, termasuk TV, tidak mungkin mengganti peran rumah tangga apalagi sekolah. Posisi mass media sekadar melengkapi peran lembaga pendidikan yang sudah ada.

Sumber Rujukan :
Suryani Zaini    Anggota Dewan Redaksi Indosiar dan SCTV
MEDIA INDONESIA,  10 Januari 2015

Kamis, 27 November 2014

BELAJAR DAN MENGAJAR

SEBUAH DEFINISI

Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon, demikian menurut teori behavioristik. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami peserta didik dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.


Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada peserta didik seperti alat peraga, pedoman kerja atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar peserta didik, sedangkan respon adalah reaksi atau tanggapan peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh guru, sebagaimana yang dikemukakan oleh Thorndike (dalam Budiningsih, 2004: 21) bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon.


STIMULUS adalah apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap oleh indera. sedangkan RESPON adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkrit (dapat diamati) atau tidak konkrit (tidak dapat diamati).


Faktor lain yang juga dianggap penting menurut teori behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement), yaitu apa saja yang diberikan guru dalam proses pembelajaran peserta didik yang dapat memperkuat timbulnya respon. 


Hal ini dikemukakan oleh Skinner bahwa “kita semua dikontrol oleh banyak rancangan penguatan, sebagian disengaja, sebagian kebetulan. Jika penguatan positif yang digunakan oleh para pemodifikasi perilaku lebih efektif daripada yang lainnya, sekaligus lebih menyenangkan bagi pelajar dan lebih bagus efeknya, mengapa hal itu harus dikritik?, tidakkah lebih baik kita dikontrol secara menyenangkan oleh orang yang baik daripada kita dikontrol oleh berbagai hal yang seringkali berlawanan dan egoistic?” (dalam Winfred F. Hill, 1990: 121).


Pendapat lain mengenai Belajar sebagai perubahan behavior, dikemukakan oleh Hamalik (2001:27) bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar . Jadi belajar merupakan modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar merupakan suatu proses atau kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas lagi yaitu mengalami. Jadi belajar merupakan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh.


Sedangkan Gagne dalam Purwanto (1986:85) menyatakan bahwa “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus dengan isi ingatan mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi dan sewaktu sesudah ia mengalami situasi tadi.” Pendapat senada dikemukakan oleh Tabrani (1990:25) bahwa belajar dapat juga diartikan sebagai perubahan perilaku yang ditujukan sebagai akibat dari pengalaman, belajar merupakan suatu proses tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.


Jadi dapat disimpulkan belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku sebagai pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan. Bukti bahwa seseorang telah belajar adalah terjadi perubahan sikap atau perilaku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.


Menurut teori kognitif, belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya, belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks (Budiningsih, 2004: 34).


Menurut Piaget, proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi/penyeimbangan. Proses asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki oleh individu. Proses akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru. Sedangkan proses equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi (Budiningsih, 2004: 40).


Jerome Bruner (1966) menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut:



  1. Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
  2. Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan system penyimpanan informasi secara realis.
  3. Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.
  4. Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.
  5. Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antar manusia untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.
  6. Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternative secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi (Budiningsih, 2004: 40).

Teori kognitif lebih mementingkan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam belajar. Kebebasan dan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran amat diperhitungkan agar belajar menjadi lebih bermakna bagi peserta didik. Hanya dengan mengaktifkan peserta didik secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan serta pengalaman dapat terjadi dengan baik.

Menurut pandangan teori konstruktivis, belajar merupakan proses mengkonstruksi pengetahuan. Pengetahuan dihasilkan dari proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya maka pengetahuan dan pemahaman tentang objek serta lingkungannya tersebut akan meningkat dan semakin rinci (Budiningsih. 2004: 57).


Von Galserfeld (dalam Budiningsih, 2004: 57) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam mengkonstruksi pengetahuan, yaitu; 1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, 2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lainnya.


Berdasarkan uraian di atas, belajar dapat diartikan sebagai suatu proses pembentukan pengetahuan yang harus dilakukan oleh subjek yang belajar dengan cara aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Pada hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada peserta didik. Artinya, yang paling menentukan terjadinya gejala belajar adalah motivasi belajar pada diri peserta didik sendiri.


Belajar merupakan suatu proses atau kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas lagi yaitu mengalami. Jadi belajar merupakan langkah-langkah atau prosedur yang di tempuh.


Jadi belajar dapat disimpulkan sebagi suatu proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan. Bukti bahwa seseorang telah belajar adalah terjadi perubahan sikap atau perilaku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.


Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar peserta didik. Beberapa pengertian mengajar antara lain dikemukakan Burton dalam Abdul Azis W (2007: 7) “Teaching is the stimulation, guidance, direction and encouragement of learning”. Jadi mengajar merupakan kegiatan mendorong dan membimbing peserta didik agar melakukan kegiatan belajar.


Beberapa penjelasan juga dikemukakan oleh Abdul Azis W (2001: 7) sebagai berikut:


(1) mengajar adalah komunikasi antara dua orang atau lebih dimana antara keduanya terdapat saling mempengaruhi melalui pemikiran-pemikiran mereka dan belajar sesuatu dari interaksi itu.

(2) mengajar adalah mengisi pemikiran peserta didik dengan berbagai informasi dan pengetahuan tentang fakta untuk kegunaan pada masa yang akan datang. 

(3) Mengajar adalah proses dimana pelajar, guru, kurikulum dan variable lainnya disusun dengan cara yang sistematis guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 


(4) Mengajar adalah mendorong lahirnya motivasi untuk belajar.


Sereuder dalam Roestiyah (1982: 12) menyatakan bahwa “Mengajar adalah kegiatan yang dilakukan guru dengan memakai bahan pelajaran sebagai medium untuk membawa anak-anak dalam pembentukan pribadi termasuk kegiatan pembentukan kejasmanian”.


Pendapat lain dikemukakan oleh Sardiman (2001: 3), mengajar diartikan sebagai kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar peserta didik untuk memperoleh pengetahuan, nilai dan sikap yang membawa perubahan tingkah laku maupun perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi.


Sedangkan Howard dalam Roestiyah (1982: 13) mengemukakan pengertian mengajar sebagai suatu aktivitas untuk mencoba menolong atau membimbing seseorang untuk mendapat, merubah atau mengembangkan skill, cita-cita, penghargaan dan pengetahuan.


Jadi, mengajar adalah kegiatan membimbing peserta didik yang direncanakan secara sistematis, melalui proses komunikasi dan interaksi ditujukan untuk merangsang motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu yang baru, mengarahkan pada pembentukan prilaku yang sudah ditetapkan, membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan serta mendorong peserta didik untuk memiliki keberanian dan antusiasme dalam mencapai tujuan belajar secara maksimum. Dan tujuan utama mengajar adalah membantu peserta didik untuk menjawab tantangan lingkungannya dengan cara yang efektif.


Sumber : http://ridwan202.wordpress.com/2014/11/16/belajar-dan-mengajar/

CARA BELAJAR YANG BAIK

Tips Dan Trik : 

Untuk menuju sukses di masa depan, para pelajar berlomba-lomba belajar untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Sesuai dengan pepatah “Belajar Merupakan Kunci Keberhasilan”. Belajar adalah memahami, merasakan, mengetahui, mencari, menjelaskan, sehingga dengan belajar orang akan mengetahui segala yang belum diketahui.

Belajar pada umumnya dilakukan pada saat jam pelajaran sekolah. Namun, untuk mendapatkan cara belajar yang efektif, belajar dibutuhkan waktu yang banyak. Tidak di jam sekolah saja, belajar wajib dilakukan saat dirumah. Belajar yang sukses tergantung dengan cara belajar masing-masing orang, setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda. Namun, sebagian orang memiliki cara kerja otak yang sama, sehingga cara belajarnyapun sama. 

Berikut beberapa tips cara belajar yang baik:

  1. Niatkan dalam diri, berikan motovasi belajar terlebih dahulu. Yakin dan berikan semangat dalam hati. Bahwa, dengan belajar kita dapat mendapatkan nilai yang baik di sekolah.
  2. Mulai belajar dengan membaca terlebih dahulu. Setelah membaca, buat resume dari buku yang Anda baca. Membaca sambil menulis meningkatkan kinerja ingatan pada otak Anda.
  3. Jika ada yang tidak dimengerti, jangan malu untuk bertnya. Dan jangan malu untuk menjawab pertanyaan dari orang lain. Belajar dari pertanyaan orang lain menambah pengetahuan Anda.
  4. Hindari dari perbuatan mencontek. Kerjakan ujian dengan jawaban sendiri. Dengan begitu, Anda akan tahu, sisi mana yang belum diketahui, dan sisi mana yang harus dipelajari.
  5. Belajar yang terlalu serius juga tidak baik untuk otak, beri jenjang waktu belajar dan refreshing. Bisa juga dilakukan dengan belajar kelompok, belajar kelompok menjadi alternative belajar yang efisien. Jika tidak ada yang dimengerti, Anda bisa bertanya langsung kepada teman belajar kelompok Anda.
  6. Buat perencanaan waktu belajar yang baik. Misalnya, jika Anda bersekolah dari jam 7 sampai dengan jam 2 siang, berikan waktu 2 jam pada jam 7 malam sampai dengan jam 9 untuk mengulang pelajaran di sekolah.

Belajarlah dengan tekun, berlatih terus dengan berbagai soal pelajaran di sekolah.
Ke 7 tips diatas tidak akan berarti jika Anda sendiri tidak memiliki motivasi untuk belajar, tingkatkan motivasi belajar Anda, lalu ikuti tips belajar efektif diatas, Barengi belajar dengan doa yang tulus kepada Tuhan, agar diberikan hasil yang maksimal, semoga sukses.

Sumber: http://pusatremaja.com

Selasa, 10 Juni 2014

LIMA KECERDASAN MANUSIA

SUBHANALLAH :

Kiriman : Fanny
Tak ada yang perlu kita sombongkan sebagai manusia, meskipun kita dibekali oleh Tuhan lima macam/jenis kecerdasan, karena hal itu belumlah cukup untuk kita merasa unggul dengan ciptaan-Nya yang lain. Tuhan memberikan ke-lima bentuk kecerdasan tersebut sebagai wujud kasih dan sayang-Nya agar kita mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang menghadang dalam kehidupan ini...

Semoga setelah membaca artikel ini, kita semakin bertambah rasa syukur dan takzim kepada=Nya....

1. Intellegent Quotient (IQ)
Kecerdasan Pikiran ini merupakan kecerdasan yang bertumpu kemampuan otak kita untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah. Jika kita mengikuti Psikotes, ada banyak soal yang menuntut kejelian pikiran kita untuk menjawabnya, misalnya soal mengenai delik ruang seperti bentuk ruang kubus yang diputar-putar akan menjadi seperti apa. Soal ini bertujuan untuk melihat kemampuan pikiran kita dalam menyelesaikan suatu masalah dari berbagai sisi.
Sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar mengukur kecerdasan seseorang. Tetapi namanya juga temuan manusia, istilah tehnis yang berasal dari hasil kerja Alfred Binet ini (1857 – 1911) lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
a. Pemahaman absolut terhadap skor IQ
Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
b. Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
2. Emotional Quotient (EQ)
Disebut juga kecerdasan Emosi. Kecerdasan Emosi ini didasarkan kepada kemampuan manusia dalam mengelola emosi dan perasaan. Kecerdasan Emosi ini sangat berpengaruh dalam performace dan kecakapan emosi kita dalam bekerja, dan juga kemampuan diri kita dalam menghadapi suatu masalah. Seseorang yang memiliki Emosi yang buruk walaupun IQ nya besar, dia akan gagal dalam hidupnya dikarenakan tidak mampu mengontrol diri saat menghadapi suatu masalah. Kecerdasan emosi sudah menjadi suatu tolok ukur utama yang dicari oleh perusahaan pada pegawainya dan sering merupakan karakteristik penentu kesuksesan dalam kerja dan pembedaan kinerja dan performace suatu karyawan. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menerapkan pengetahuan dari emosi diri dan emosi orang lain agar bisa lebih berhasil dan bisa mencapai kehidupan yang lebih memuaskan. Dalam psikotes pun kecerdasan emosi ini sering menjadi tolak ukur utama dalam merekrut pegawai, karena dengan kecerdasan emosi yang tinggi walaupun memiliki IQ yang rendah cenderung perusahaan merekrut pegawai yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, karena kecerdasan IQ mudah untuk ditingkatkan dibandingkan kecerdasan emosi.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaatKarena kecerdasan emosi ini lebih ditekankan kepada jati diri dan emosi kita. Walaupun emosi dapat dikontrol dengan mengikuti pelatihan-pelatihan seperti ESQ dan lainnya, tetapi butuh kesadaran tinggi untuk mengontrol emosi kita ini.
3. Spiritual Qoutient (SQ)
Kecerdasan Spiritual ini berkaitan dengan keyakinan kita kepada Tuhan.Kecerdasan ini muncul apabila kita benar-benar yakin atas segala ciptaannya dan segala kuasanya kepada manusia (bukan atheis).
Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
4. Moral Quotient (MQ)
Nilai, filosofi, dan kumpulan kecerdasan moral memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap bisnis. Hal tersebut merupakan dasar dari visi, tujuan, dan budaya organisasi. Tantangan dari kecerdasan moral bukan hanya untuk mengetahui yang benar dan yang salah, namun juga untuk berbuat serta melakukan tindakan yang benar. Pada segolongan populasi manusia terdapat sekelompok manusia dengan jumlah prosentase yang kecil menderita, mengalami sakit jiwa ataupun terkucil. Kelompok ini kemungkinan tidak “mengerti” yang benar dan yang salah. Mengapa kita tidak lebih sering melakukan tindakan yang tepat? Kebanyakan orang melakukan tindakan yang tepat kadang-kadang saja. Bertindak atas setiap keputusan yang kita buat setiap hari, mempertimbangkan apa yang “benar”, apa yang lebih baik dan dapat membantu komunitas kita, organisasi, dan orang lain. Namun kita tidak selalu setuju dengan apa yang benar.
Dalam hal ini nilai dan filosofi turut berperan. Penilaian kita menjadi dasar dalam percaya dan menentukan tindakan. Filosofi merupakan jalan bagi kita untuk menentukan nilai. Filosofi yang cerdas merupakan keinginan untuk memahami manusia, benda, dan dunia melalui rangkaian kata yang menggambarkan bagaimana mereka bekerja dengan demikian menyediakan suatu keamanan emosional dalam meramalkan masa depan. Manusia dengan filosofi mempercayakan pada logika dalam membuat keputusan, dan menaksirkan harga dari sesuatu melawan “kode” yang mendasar atau mengatur garis pedoman yang menyebabkan ketegangan. Manusia dengan pandangan ini mempercayakan pada kesadaran persaingan, terkadang pada wewenang sosial yang terpisah. Anda mungkin pernah mendengar perkataan seseorang dengan filosofi yang cerdas, contohnya: “jika anda memiliki solusi yang luwes, orang lain akan mempercayainya. Tidak perlu mencoba untuk meyakinkan mereka mengenai kebaikannya.” Mereka dapat menggunakan sebuah gaya kemimpinan, jika visi yang digambarkan menjadi penyebab yang baik di masa depan.
Dalam hipotesa penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hal lebih mendasar dari kemampuan kecerdasan emosional. Hal tersebut tampak semacam kompas moral. Hal tersebut merupakan jantung dari kesuksesan bisnis yang berjalan lama. “Sesuatu yang lebih” ini dinamakan kecerdasan moral (moral intelligence). Kecerdasan moral merupakan kapasitas mental untuk menentukan bagaimana prinsip umum manusia yang harus digunakan pada nilai, tujuan, dan tindakan. Istilah yang mudah, kecerdasan moral merupakan kemampuan untuk membedakan yang benar dari yang salah seperti yang didefinisikan oleh prinsip umum. Prinsip umum merupakan kepercayaan mengenai tingkah laku manusia secara umum pada seluruh budaya di dunia.
Kecerdasan moral bukan hanya penting untuk mengefektifkan kepemimpinan, namun juga merupakan “pusat kecerdasan” bagi seluruh manusia. Mengapa? Karena kecerdasan moral secara langsung mendasari kecerdasan manusia untuk berbuat sesuatu yang berguna. Kecerdasan moral memberikan hidup manusia memiliki tujuan. Tanpa kecerdasan moral, kita tidak dapat berbuat sesuatu dan peristiwa-peristiwa yang menjadi pengalaman jadi tidak berarti. Tanpa kecerdasan moral kita tidak akan tahu mengapa pekerjaan yang kita lakukan? Dan apa yang harus dikerjakan?
5. Adversity Quotient
Ketika akhirnya Thomas Alva Edison (1847 – 1931) berhasil menemukan baterai yang ringan dan tahan lama, dia telah melewati 50.000 percobaan dan bekerja selama 20 tahun. Tak heran kalau ada yang bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000 kali, lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil?” Secara spontan Edison langsung menjawab, “Berhasil? Bukan hanya berhasil, saya telah mendapatkan banyak hasil.
Apakah adversity quotient (AQ) itu? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.
Untuk memberikan gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian:
1. Quitter (yang menyerah). Para quitter adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan hidup). Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan
2. Camper (berkemah di tengah perjalanan) Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yang terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan, dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yang tidak teraktualisasikan, dan yang jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai.
3. climber (pendaki yang mencapai puncak). Para climber, yakni mereka, yang dengan segala keberaniannya menghadapi risiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan.”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper, dan quitter.
Jawaban luar biasa dari pencipta lampu pijar itu menjadi salah satu contoh ekstrem seorang climber (pendaki)–yang dianggap memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan (adversity quotient, AQ) tinggi. Terminologi AQ memang tidak sepopuler kecerdasan emosi (emotional quotient) milik Daniel Goleman, kecerdasan finansial (financial quotient) milik Robert T. Kiyosaki, atau kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Manusia sejati adalah manusia yang jika menempuh perjalanan yang sulit, mereka selalu optimis; sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir.
Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy-seorang pengamat ekonomi kenamaan asal Inggris terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama. Yaitu, pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi. Kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Dan ketiga, selalu berbeda dengan orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan orang lain pada umumnya. Dua dari tiga karakter orang sukses yang diungkapkan Handy dalam The New Alchemist tersebut erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan
Dalam dunia kerja, mengapa para karyawan yang ber-IPK tinggi kalah bersaing dibandingkan para karyawan lain yang ber-IPK rendah tetapi lebih berani dalam bertindak?
Sumber :http://www.yudhe.com/5-jenis-kecerdasan-manusia/

TUJUH HUKUM ALAM SEMESTA

SEKILAS INFO :
Kiriman : Hasan Maulana
Sebagai salah satu bentuk tugas yang wajib dikerjakan oleh setiap Warga Belajar di PKBM Setyo Education adalah Program "Melek Internet", khususnya melatih minat browsing pengetahuan dan wawasan. Serta kemampuan dalam menulis. Sebagai langkah awal, saya persembahkan hasil tulisan yang bersumber dari file sharing di internet. Semoga memiliki manfaat bagi para pembaca...
Berikut ini merupakan tujuh hukum alam yang berlaku di semesta ini, yakni :

Universe 7 Hukum Alam Semesta
1. Hukum Sebab Akibat
Hukum ini merupakan hukum kehidupan yang fundamental. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita memiliki sebab khusus. Pemikiran adalah sebab, dan kondisi adalah akibatnya. Maka apapun pemikiran yang Anda tebarkan akan berkulminasi pada suatu tindakan yang menimbulkan akibat. Inilah padanan mental dari hukum fisika Newton bahwa “setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sebanding dan berkebalikan”, dan hukum ini berlaku dengan prinsip yang sama.
Karena hukum alam tidak bisa dipastikan, maka penting bagi Anda untuk mengingat apa yang Anda inginkan dan bukan apa yang tidak Anda inginkan. Kualitas berbagai hubungan, misalnya, merupakan hasil dari apa yang telah Anda tebarkan dalam hubungan-hubungan tersebut.
2. Hukum Daya Tarik 
Apa yang secara dominan Anda pikirkan akan menarik orang-orang dan lingkungan yang harmonis dengan pikiran-pikiran itu ke dalam kehidupan (seperti yang dikatakan dalam Law of Attraction). Secara metafisik, makin besar vibrasi yang Anda keluarkan, makin besar daya tariknya. Proses ini mirip dengan Hukum Resonansi.
Anda selalu menarik semua hal yang Anda pikirkan, baik itu positif maupun negatif. Akal sehat senantiasa mengatakan apa yang sebaiknya Anda kerjakan, meskipun seringkali terdapat kesepakatan yang mencegah Anda untuk melakukannya.
3. Hukum Kreativitas 
Di luar dua energi interaktif, yin dan yang, jantan dan betina, muncul energi yang ketiga. Terdapat pasokan ide yang melimpah ruah, yang siap untuk Anda ubah, dan seluruhnya secara dramatis akan mengembangkan potensi, kebahagiaan, dan sukses Anda. Segala hal yang tercipta di dunia ini adalah hasil interaksi kedua energi yang saling bertentangan, tapi saling melengkapi.  Keduanya berada dalam diri kita, tapi hanya akan efektif jika dimanfaatkan dan diseimbangkan.
4. Hukum Substitusi 
Anda tidak bisa sekadar berhenti melakukan sesuatu. Keinginan kuat atau ketetapan hati sebesar apapun tidak akan tahan dengan kekosongan atau kevakuman yang terjadi terus- menerus. Untuk menghentikan suatu kebiasaan atau sikap, Anda mesti mencari penggantinya. Gantikan pemikiran tentang apa yang tidak Anda inginkan dengan pemikiran tentang apa yang Anda inginkan. Tidak ada sesuatu yang bisa menghilang sama sekali: sesuatu tersebut harus digantikan atau disalurkan ulang dengan substitusi.
5. Hukum Pelayanan 
Berhentilah melayani orang lain dengan cara yang sebenarnya tidak Anda inginkan, karena imbalan yang Anda peroleh akan selalu sama dengan pelayanan Anda. Memberi perlakuan kepada orang lain di balik meja dengan cara yang sama dengan di depan meja, pada akhirnya akan berlangsung dengan prinsip yang sama. Anda akan selalu diimbali dengan proporsi yang persis sama dengan nilai dari layanan Anda kepada orang lain.
6. Hukum Penggunaan 
Kekuatan alami apapun, bakat atau talenta, akan mengalami kemandekan jika tidak digunakan. Sebaliknya, akan menjadi semakin kuat jika makin sering dimanfaatkan. Ilustrasi yang sangat baik digambarkan dalam kisah seorang tua yang memperlihatkan kepada Rossetti, si pelukis terkenal, beberapa lukisan yang baru saja dibuatnya pada masa pensiun. Rossetti dengan sopan menjawab bahwa lukisan-lukisan itu biasa-biasa saja. Si lelaki tua kemudian memperlihatkan beberapa lukisan lain yang dibuat oleh seseorang yang lebih muda. Rossetti langsung memuji dan mengatakan bahwa di pelukis ini tentu sangat berbakat. Melihat orang tua itu memperlihatkan gejolak emosi, Rossetti pun bertanya apakah yang melukis itu anaknya. “Bukan. Itu lukisan saya sendiri sewaktu muda. Tapi saya tergoda untuk melakukan hal yang lain dan melupakan bakat melukis saya”, jawab si lelaki tua. Bakat si lelaki tua telah melenyap. Manfaatkanlah, atau Anda akan kehilangan kekuatan alami itu.
7. Hukum Tujuh 
Urut-urutan kejadian berjalan mengikuti Hukum Tujuh atau Hukum Oktaf. Saat not atau nada dasar dimainkan, setiap not diulang bunyinya beberapa kali dan kemudian menghilang intensitasnya. Hukum Tujuh berarti bahwa tidak ada kekuatan yang terus-menerus bekerja dengan arah yang sama. blogbelajarpintar.blogspot.com. Setiap kekuatan bekerja dalam kurun waktu tertentu, kemudian menghilang intensitasnya, lalu berubah arah atau mengalami perubahan internal.
Tidak satu pun di alam ini yang berkembang mengikuti garis yang lurus. Dan demikian pula dengan kehidupan Anda. Tapi setelah Anda bisa menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip itu, Anda mengalir mengikuti arusnya, bukannya berlawanan.
Hukum Tujuh memperlihatkan bahwa tak ada satu pun kekuatan yang cuma berkembang ke satu arah, dan bahwa energi terus berkembang bahkan di tengah rintangan dan interval. Sebagaimana oktaf, segala sesuatu dalam kehidupan ini berjalan dengan vibrasi. Tanpa vibrasi takkan ada gerakan, dan dengan demikian tak ada aktivitas yang bisa berjalan dengan cara apa pun juga.
source
http://blogbelajarpintar.blogspot.com/2012/07/7-hukum-alam-semesta.html?m=1

TOKOH PENDIDIKAN DUNIA

Kiriman : Irfandi

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG ....

Sebuah ungkapan klise yang masih berlaku dan relefan dalam kehidupan di abad 21 ini, betapa tidak sebuah ungkapan sederhana yang makna kandungannya sangat dalam khususnya dalam dunia pengetahuan dan pendidikan. 
Barang siapa yang tidak mau mengenal atau pingin tahu akan sesuatu maka dirinya bakalan tidak tahu apa-apa...Barang siapa acuh tak acuh dengan keadaan sekelilingnya maka ia bagaikan sebuah katak yang berada di dalam tempurung....
Dunia sangatlah luas...., begitu pula pengetahuan,,,, maka sediakan waktu walaupun sedetik untuk dapat memanfaatkan waktu untuk belajar dan belajar....Karena konsep pendidikan sekarang ini paradigmanya menuju kunsep "belajar sepanjang hayat"
Marilah sejenak kita luangkan waktu untuk kilas balik kebelakang dalam menghormati jasa-jasa para tokoh pendidikan dunia beberapa abad yang lalu....
Beberapa tokoh pendidik kelas dunia tersebut adalah :

1. Al Ghazali
Al Ghazali 4 Tokoh Pendidikan Di Dunia
Sejak kecil Al Ghazali terkenal akan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan kegigihannya dalam mencari ilmu. Maka tidak mengherankan jika dalam masa usia yang masih kanak-kanak ia telah belajar dengan sejumlah guru di tanah kelahirannya.
Al Ghazali menjelaskan bahwa konsep pendidikan yang benar itu mengajarkan secara menyeluruh yang meliputi tujuan pendidikan, metode, etika guru, kurikulum dan murid.
2. John Locke
John Locke 4 Tokoh Pendidikan Di Dunia
Dia memperoleh pendidikan di Universitas Oxford, peroleh gelar sarjana muda tahun 1656 dan gelar sarjana penuh tahun 1658. Selaku remaja dia tertarik sangat pada ilmu pengetahuan dan di umur tiga puluh enam tahun dia terpilih jadi anggota “Royal Society.” John Locke menegaskan kurikulum harus diarahkan demi kecerdasan individual, kemampuan dan keistimewaan anak-anak dalam menguasai pengetahuan dan bukan pada pengetahuan yang biasa diajarkan dengan hukuman yang sewenang-wenang.
3. John Dewey
John Dewey 4 Tokoh Pendidikan Di Dunia
Dewey mengadakan penelitian mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praktek di sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai gantinya, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan siswa dalam diskusi dan pemecahan masalah
4. Ibnu Sina
Ibnu Sina 4 Tokoh Pendidikan Di Dunia
Ibnu Sina terkenal dengan pemikirannya sebagai intelektual muslim yang mendapat banyak gelar. Menurutnya, tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh seseorang. Potensi itu tidak hanya menuju pada perkembangan fisik, tapi juga intelektual dan budi pekerti. Selain itu, pendidikan juga harus mampu mempersiapkan seseorang agar dapat hidup bermasyarakat.
source : http://light.mindtalk.com/IDEAVOLUTION/post/51874ef3f7b73048830003a6